Welcome to Nature Lingkungan Hidup: Ciptagelar

Pada tanggal 22-24 Desember 2017 rombongan KAPA FTUI mengunjungi Kasepuhan Ciptagelar di Sukabumi untuk mempelajari dan mencari info tentang keunikan Kasepuhan Ciptagelar dengan belasan ribu lumbung padi yang ada serta pengaruh teknologi di kasepuhan tersebut. Kami berangkat pada jumat malam menggunakan tronton. Memang, untuk mencapai Ciptagelar sangat sulit, sampai disanapun kami harus berganti mobil dengan pick up yang tetap saja kita perlu bergotong royong menarik mobil apabila mobil mengalami selip ban. Namun, semuanya terbayarkan begitu kami memasuki Kawasan Kasepuhan. Terlihat pemandangan lumbung padi ditengah terasering sawah yang begitu hijau.

Ciptagelar adalah sebuah kasepuhan di daerah Sirnaresmi, Cisolok, Sukabumi atau secara lokasi ada pada kaki Gunung Halimun. Kehidupan penduduk Ciptagelar sangat bergantung pada hasil bumi terutama padi yang dianggap sebagai sumber kehidupan. Bayangkan, ditengah Indonesia yang sekarang banyak mengimpor beras, di Ciptagelar justru bisa swasembada beras bahkan sampai 70 tahun kedepan. Anggapan itu memang telah diwariskan turun temurun dari dulu karena sebagai kasepuhan, Ciptagelar diamanahkan untuk tetap mempertahankan adat dan tradisi leluhur. Dari bangunan di Ciptagelar juga semuanya menggunakan bahan dari alam seperti bambu untuk fasad bangunan dan ijuk sebagai atapnya. Ciptagelar dipimpin oleh seorang sepuh, tapi masyarakat tidak menyebutnya pemimpin, namun hanya orang yang disepuhkan karena merupakan keturunan dari sepuh sebelumnya. Untuk sekarang sepuhnya bernama Abah Ugi.

Ciptagelar ini sangat unik, walaupun adat istiadat tetap diagungkan tinggi, tapi masyarakat disana sangat terbuka dengan perkembangan zaman. Berdasarkan keunikan inilah, rombongan KAPA FTUI ingin mencari informasi dengan cara sosiologi pedesaan ke masyarakat disana. Saat itu kami mengambil isu pengaruh pengunjung terhadap adat istiadat dan perkembangan teknologi di sana. Jadi setelah mengikuti acara persembahan angklung di kediaman Kang Yoyo sebagai penanggung jawab untuk menjadi guide kami saat di Ciptagelar, kami terbagi kedalam 4 kelompok untuk bertanya-tanya kepada warga lokal Ciptagelar tentang isu tersebut. Ada yang bertanya pada pedagang, pebisnis kopi gula aren yang memang terkenal dari Ciptagelar, juga dengan penanggung jawab kesenian. Sangat menyenangkan untuk bisa lebih dekat dengan warga ditemani seduhan kopi. Kehangatan warga pun semakin terasa. Inilah kehangatan Warga Negara Indonesia sesungguhnya.

Hasil dari berbincang dengan warga ini cukup mengejutkan kami karena walaupun memang banyak orang yang telah mengunjungi Kasepuhan ini, tapi pengaruh sebenarnya karena warga Ciptagelar memang terbuka akan pengetahuan dan teknologi. Namun, mereka tetap tahu batasan agar adat yang ada tetap lestari. Contohnya, pembangkit listrik tenaga air disana memang hasil riset dari Abah Ugi yang telah menempuh pendidikan tinggi dan ketika kembali ke Ciptagelar, Abah menurunkan ilmunya ke sebagian warganya. Paling mengejutkan adalah ketika kami mengunjungi CIGA TV. Ternyata dipedalaman kaki Gunung Halimun yang dingin dan berkabut ini, terdapat stasiun televisi sendiri dan tenaga kerjanya kebanyakan masih dalam usia sekolah. Jadi mereka sekaligus belajar juga layaknya Pendidikan SMK.

Dari 3 hari yang singkat di Ciptagelar dengan segala keunikannya, kami belajar banyak bahwa di kehidupan modern ini memang tidak dapat dipungkiri lagi kita harus mengikuti zaman. Namun, kita jangan lupa tentang adat dan istiadat yang harus kita lestarikan sebagai warisan leluhur kita.

 

By: Dimas Nur Mauladi (NR 1536)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *