Musim Pengembaraan 2017 Olahraga Air, Sungai Pekalen

(Muhammad Luthfi Marwanto NR 1498)

Pagi itu, kami bersiap dan mengucap pamit serta meminta doa dan restu kepada orang tua kami. Udara kala itu terasa hangat dan sejuk seperti doa orang tua kami yang menyertai setiap langkah kami. Pagi itu memang terasa berbeda, karena selama 10 hari kami akan berada jauh dari rumah, jauh dari hiruk pikuk ibukota, serta jauh dari zona nyaman.

Dari tanggal 25 Juli 2017 sampai 4 Agustus 2017, kami dari Divisi Olahraga Air KAPA FTUI melaksanakan kegiatan yang telah kami persiapkan sebelumnya, yaitu Musim Pengembaraan. MP ORA 2017 bertempat di Sungai Pekalen, Probolinggo.  Sungai ini memiliki grade 3-4, dengan panjang total jalur pengarungan 28 km. Karakteristik Sungai Pekalen yang mengharuskan siapapun yang mengarunginya untuk sigap bermanuver memberikan tantangan buat kami.

            Pukul 12.30 WIB, kami dan Divisi Caving melaksanakan upacara pelepasan. Setelah upacara pelepasan, kami menuju Stasiun Pondok Cina untuk menaiki kereta ke Stasiun Pasar Senen. Sesampainya di Stasiun Pasar Senen, kami lanjut menggunakan Kereta Api Brantas ke Madiun. Setelah 11 jam 40 menit berada di kereta tersebut, kami beserta Divisi Caving akhirnya tiba di Madiun.  Sesampainya kami disana, kami sarapan lalu melanjutkan perjalanan ke terminal untuk pergi ke kota tujuan masing-masing. Divisi caving memilih menyewa kendaraan untuk sampai ke terminal, sementara kami memilih berjalan kaki menelusuri sudut-sudut kota Madiun. Dengan membawa berbagai alat pengarungan yang kami susun sedemikian rupa sehingga mudah dibawa, serta buku yang akan kami bagikan nanti, kami berjalan menelusuri indahnya kota Madiun.

            Setelah menaiki bus ke Surabaya, kami lanjut menggunakan bus ke Probolinggo. Sesampainya di Probolinggo, kami langsung mencarter angkutan kota untuk pergi ke Universtias Panca Marga untuk mengunjungi pencinta alam MARABUNTA.  Di sekret MARABUNTA, kami melakukan ramah tamah. Kami disuguhi nasi jagung khas Probolinggo dan makan bersama mereka. Malam harinya, kami diantar MARABUNTA ke Desa Pesawahan, lokasi basecamp pertama kami. Sesampainya di rumah kepala desa, kami beramah-tamah terlebih dahulu. Kami kemudian mengadakan rapat evaluasi dan beristirahat malam.

            Keesokan harinya, kegiatan yang dilakukan adalah suvey SD untuk menentukan SD mana yang akan dijadikan tempat penyumbangan buku kami. Di hari keempat, kami berangkat ke SDN Pesawahan II untuk melakukan penyumbangan buku ke perpustakaan dan pencerdasan. Kami melakukan penyuluhan mengenai pentingnya memilah dan mengelola sampah. Di hari kelima, kami melakukan kegiatan sosial pedesaan, latihan fisik, dan latihan materi Z-Trick. Di hari keenam kami kerja bakti dan bersiap untuk berpindah basecamp ke basecamp NOARS rafting. Pukul 16.00 kami sampai dan langsung membangun tenda di dekat saung. Kami mengakhiri hari dengan beristirahat untuk mempersiapkan fisik dan mental kami untuk mengarung di keesokan harinya.

            Pagi harinya, kami bangun dan bersiap untuk melakukan pengarungan pertama.  Hari ini, kami melakukan dua kali pengarungan di Pekalen atas. Pekalen atas memiliki karakteristik tebing tinggi di tepi sungai serta memiliki keindahan tersembunyi berupa goa kelelawar dan air terjun. Setelah portaging ke starting point selama 40 menit, kami melakukan pengarungan pertama. Di pengarungan pertama, kami melakukan penerapan materi mapping, skipper paddle, dan river running system. Pada pengarungan ini, kami melakukan mapping di lima jeram berbeda. Pengarungan pertama kami selesaikan dengan waktu kurang lebih 3.5 jam.

Sesampainya di finish point, kami bergegas kembali untuk melakukan pengarungan kedua. Pada pengarungan kedua, kami bergantian menjajal skipper dan posisi pancung. Namun, kami menemui beberapa kendala karena energi kami sudah terkuras pada pengarungan pertama. Saat melewati jeram kedua, Hanif sempat terjatuh dari perahu, lalu saat melewati air terjun, kadiv kami, Ibnu, tertindih air terjun dan jatuh, sehingga perahu 1 sempat trapped.  Perahu 1 juga mengalami flip di Jeram Matador, yang menyebabkan seluruh awak terlempar keluar. Pada pengarungan kedua, kami finish cukup malam, yaitu pukul 18.15. Kami kemudian melakukan portaging dan kembali ke basecamp. Kami langsung masak, makan, dan beristirahat karena esok harinya masih ada pengarungan yang harus kami lakukan.

Hari selanjutnya, kami bangun pagi seperti biasa dan bersiap. Pada pengarungan hari kedua, kami mengarungi Pekalen tengah dan Pekalen bawah, dengan total  panjang 17 km. Pada pengarungan kali ini kami tidak  melakukan portaging menggunakan kendaraan ke starting point karena kami memulai pengarungan dari finish point Pekalen atas yang berjarak sekitar 400 m dari basecamp. Portaging kali ini sungguh unik. Kami diharuskan untuk melempar perahu dari pinggir tebing ke dasar sungai untuk memudahkan kami. Pada awal-awal pengarungan, kami harus terhenti karena adanya jeram deras yang memiliki belokan tajam, dengan uncdercut yang berada di sisi sungai, sehingga kami melakukan chicken run untuk melewati jeram tersebut. Di Pekalen tengah, kami juga beberapa kali mengalami kendala karena harus melewati jembatan bambu yang dibuat penduduk setempat. Selain itu, ada jeram yang mengharuskan kami melakukan portaging karena memang mustahil untuk dilewati.

            Jika dibandingkan dengan Pekalen atas dan Pekalen tengah, Pekalen bawah memiliki jeram yang terbilang lebih mudah. Di Pekalen bawah, kami melakukan mapping di dua jeram. Pengarungan hari kedua kami selesaikan pukul 15.30, dengan finish point di sebuah dam. Sampainya di finish point kami langsung foto individu dan bergegas kembali ke basecamp NOARS. Malam harinya, kami menuju basecamp Marabunta, dan keesokan siangnya, kami melanjutkan perjalanan ke Surabaya. Pukul 18.00, kami tiba di rumah teman kami, lalu makan malam bersama, dilanjutkan rapat dan istirahat. Pada hari terakhir MP, kami menyempatkan diri untuk membeli oleh-oleh di Pasar Genteng. Selanjutnya, kami kembali berjalan kaki di tengah teriknya kota Surabaya menuju stasiun. Pukul 12.00, kereta kami pun berangkat menuju Jakarta.

            Musim Pengembaraan mengajarkan kami banyak hal, khususnya bahwa pengembaraan bukan soal eksistensi, gengsi, dan bukan sekadar rekreasi. Pengembaraan merupakan sebuah bentuk pembelajaran. Belajar untuk merasa, melihat, dan bertindak agar kami menjadi individu yang lebih baik lagi. Setiap jeram yang kami lewati pun mengajarkan kami apa itu rasa takut, penguasaan diri, kerja sama, dan kepedulian. Sekali lagi, kami mengerti bahwa keluarga tidak hanya dibentuk oleh darah dan DNA, melainkan oleh momen, kebersamaan, dan tujuan. Pukul 2.30 dini hari, kami sampai di tempat yang kami sebut rumah, tidak lain dan tidak bukan adalah Fakultas Teknik UI.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *