Pra Operasional 2 Olahraga Air, Sungai Cianten

 

“Jangan pernah berhenti belajar karena alam tidak pernah berhenti mengajar”

Ya, alam memang tak pernah berhenti mengajarkan kita banyak hal, salah satunya adalah bagaimana cara bersyukur atas segala nikmat dan karunia Tuhan YME.

Pada perjalanan Pra-Operasional 2, divisi kami—Olahraga Air—mengarungi jeram-jeram di Sungai Cianten, yang pernah kami arungi sebelumnya pada kegiatan Welcome to Nature 1. Setelah mempersiapkan kegiatan ini dengan baik, kami pun siap untuk berangkat mengarungi Sungai Cianten.

Pra-Operasional 2 ini memiliki targetan materi berupa mapping terhadap sungai yang diarungi, mulai dari pengukuran kecepatan arus, lebar sungai, gradien, hingga menggambar peta sungai.

Pagi itu, Sabtu, 29 April 2017, kami memulai pagi kami dengan salat subuh. Sebelum memulai pengarungan, kami di instruksikan untuk melakukan uji coba rescue menggunakan safety rope. Pada waktu itu, yang berkesempatan untuk menjadi pemegang tali adalah Jeri.

Setelah melakukan latihan rescue, kami pun memulai pengarungan. Kepala divisi kami—Ibnu Fahmy—menargetkan kami semua untuk mencoba mapping sendiri. Oleh karena itu, Marwanto menempatkan skenario mapping di empat jeram berbeda. Saat tiba di jeram ke-2, kami memutuskan untuk beristirahat dan melakukan salat zuhur. Di sini kami benar-benar merasakan nikmat yang Tuhan berikan kepada kita. Beribadah sembari mendengarkan aliran sungai dan ditemani oleh pepohonan hijau di sepanjang pinggiran sungai merupakan suatu nikmat yang tidak terkira. Setelah itu kami melanjutkan pengarungan. Cuaca yang kering membuat debit air sungai Cianten sedikit rendah, akibatnya perahu kami tidak jarang tersangkut pillow. Ibnu berkali-kali mengintruksikan kami untuk selalu bertindak taktis  ketika perahu tersangkut.

Pengarungan kami lalui selama kurang lebih empat jam. Sepanjang pengarungan, kami selalu disuguhkan pemandangan indah pinggiiran sungai. Sebagai manusia yang sangat lemah dan terbatas dibandingkan dengan Tuhan YME, hanya kalimat syukur yang pantas terucap dari mulut kotor kita ini akan segalanya yang telah diberikan Tuhan. Sungguh, betapa sombong dan durhaka manusia ini ketika sampai hatinya untuk merusak dan mengotori alam ciptaan Tuhan. Keistimewaan akal yang diberikan Tuhan kepada kita janganlah dipergunakan untuk merusak keindahan ciptaan-Nya. Memang kita diciptakan untuk menjadi pengelola muka bumi ini, namun janganlah bertingkah sombong, seolah-olah seluruh bumi ini milik kita. Bumi ini dititipkan kepada kita oleh Tuhan dengan tujuan agar kita menggali ilmu sebanyak-banyaknya dari alam, karena sesungguhnya alam tak akan pernah berhenti mengajarkan kita.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *