Musim Pengembaraan RC 2017, Tebing Siung

 

29 Juli 2017. Lebih lama dari keberangkatan divisi lain, upacara pelepasan rombongan Musim Pengembaraan Rock Climbing hanya dihadiri oleh beberapa orang, yang jumlahnya tidak sampai sepuluh orang. Hal tersebut sebenarnya sudah diprediksi, mengingat divisi-divisi lain sudah berangkat MP sebelum divisi RC. Namun, tidak cukup dengan sedikitnya orang yang melepas, upacara ini juga ternyata harus mundur 2 jam dari jadwal. Hujan deras dari jam setengah empat hingga jam enam membuat upacara pelepasan harus ditunda. Permulaan yang cukup sial tersebut sempat membuat semangat kami turun. Kami yang awalnya sangat bersemangat dan tidak sabar menunggu hari-H keberangkatan tiba-tiba menjadi was-was akan kesialan lain yang mungkin akan datang.

Perasaan tersebut mulai mereda ketika kami mendapat sambutan hangat dari anggota Satu Bumi (Satub) FT UGM yang menjemput kami di Stasiun Lempuyangan, Jogjakarta. Mereka menjamu kami dengan sangat ramah, sehingga kami merasa  seakan berada di kota sendiri. Sebagai tuan rumah, mereka melayani kami dengan sangat baik. Mulai dari konsumsi, akomodasi, hingga tour keliling kota semuanya telah disediakan oleh mereka. Tidak cukup sampai situ, keberangkatan kami dari sekret Satub ke Pantai Siung, tempat operasional kami, juga diantarkan oleh mereka. Alhasil, perjalanan kami menjadi jauh lebih menyenangkan dan irit. Hehehe.

Setelah sampai di Pantai Siung, kami memutuskan untuk menggunakan hari pertama untuk kegiatan sosial pedesaan (sosped) karena waktu tiba kami di sana terlalu sore untuk melakukan pemanjatan. Seperti kata pepatah, sambil menyelam minum air, kami juga berhasil mendapat data operasional tambahan sembari melakukan kegiatan sosped.

Pada hari kedua, di Kawasan Pantai Siung, kami memanjat tebing di Blok D untuk artificial dan sport climbing. Tak hanya berkutat di dua jalur tersebut, kami juga sempat mencoba jalur-jalur lain yang ada di sekitar Blok D. Seluruh peserta berhasil mencapai top di kedua jalur yang diwajibkan, kecuali salah satu peserta yang pada saat itu berhalangan untuk menyelesaikan bagian sport climbing karena hari sudah semakin gelap. Akhirnya pemanjatan diberhentikan, namun ia tetap harus menyelesaikan pemanjatan di tebing tersebut di hari lain.

Pada hari ketiga, rombongan MPRC melakukan pemanjatan di Blok J. Untuk menuju blok ini, jalan yang dituju lebih jauh dan berbeda arah dari Blok D. Di sini kami melakukan pemanjatan artificial di salah satu jalur tertinggi di blok tersebut. Giliran demi giliran, akhirnya pemanjatan diberhentikan secara paksa akibat jatuhnya salah satu peserta. Dengan adanya robekan di dagunya, ia segera dilarikan ke puskesmas terdekat oleh PJ P3K rombongan kami. Peserta yang lain langsung cleaning dan mengemasi alat-alat untuk segera kembali ke basecamp, mengingat hari juga sudah gelap. Dengan berat hati, kami meninggalkan tebing tersebut sebelum berhasil mencapai top.

Pada hari keempat, kami melanjutkan pemanjatan di Blok K, dengan materi sport climbing. Pada saat itu, peserta yang sempat terluka sudah pulih kondisinya dan sudah bisa melakukan pemanjatan. Pada blok ini kami berhasil mencapai top satu jalur, dan hanya melakukan pemanjatan jalur tersebut. Karena jalur tersebut lumayan licin dan sulit, akhirnya kami hanya menghabiskan waktu seharian di sana sambil masak-masak ceria.

Pada hari kelima seharusnya dilakukan pemanjatan setengah hari, namun karena kami dikunjungi oleh beberapa anggota Satub, akhirnya kami hanya masak-masak dan berbincang bersama. Sementara itu, salah satu peserta yang berhutang jalur di hari kedua melunasi janjinya untuk mencapai top di Blok D. Ia berhasil mencapai top dengan sport climbing dan langsung cleaning sendiri. Hebatnya, ia melakukan semua itu hanya dalam waktu setengah jam. Setelah selesai, akhirnya rombongan MPRC dan anggota-anggota Satub pun kembali ke Jogja dengan konvoi motor.

Setelah itu, barulah rombongan MPRC jalan-jalan dan menikmati wisata kuliner di Jogja pada hari keenam. Kami balik ke Jakarta naik kereta dari Stasiun Lempuyangan. Kami seharusnya turun di Stasiun Jatinegara, namun karena kelambanan kami, akhirnya keretanya terlanjur jalan lagi, hahaha. Kami pun pada akhirnya turun di Stasiun Senen. Musim Pengembaraan Rock Climbing pun berakhir dengan kami sebagai senior divisi Rock Climbing baru.

Oleh: Halizha N. S. (K-327-17)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *