Menjajal Adrenalin di Pendakian Pertama

( Bethanivitra Arisoni NR 1480 )

Gunung Ciremai merupakan pendakian pertama saya. Tentu, saya sangat excited dan tidak sabar untuk memulai pendakian. Dari beberapa hari sebelumnya, saya telah menyiapkan segala hal, mulai dari latihan fisik sampai carrier lengkap beserta isinya. Merasa sudah siap baik fisik maupun materi, saya percaya diri akan dengan mudah menaklukkan puncak Gunung Ciremai. Tetapi, seperti biasa, realita tidak selalu sama dengan ekspektasi.

Saya beserta rombongan diharuskan mendaki gunung setinggi 3078 mdpl, puncak tertinggi Jawa Barat. Kami memulai pendakian setelah menyantap sarapan dan melakukan pemanasan di basecamp. Pendakian dimulai dari sekitar pukul 06:30 pagi lewat jalur Palutungan yang katanya cukup landai. Memang kenyataan kadang tak semudah omongan. Banyaknya tanjakan, terutama setelah kami melewati Tanjakan Asoy, menemani perjalanan kami. Hampir setiap 30 menit sekali, kami berhenti selama dua menit untuk sekedar istirahat dan minum. Jika mengikuti perencanaan awal, maka kami akan sampai di pos terakhir yaitu Goa Walet sebelum matahari terbenam. Namun pada akhirnya, Sepuluh jam terlewati, dan kami hanya sampai di Pos Pesanggrahan 1. Kami memutuskan untuk bermalam di pos tersebut. Rencana awal pun berganti yang seharusnya bermalam di pos Goa Walet, pos terakhir sebelum puncak, dan mengejar sunrise, terpaksa harus dibatalkan dikarenakan hari mulai senja diiringi dengan tebalnya kabut.

Walau begitu, kami tetap bersikeras untuk sampai ke puncak. Memulai pendakian sekitar pukul 04:30 pagi membuat kami tetap dapat melihat sunrise dalam perjalanan. Mungkin, pada hari itu saya dan beberapa teman sedang beruntung, saya sempat melihat betapa besar dan  indahnya kawah Gunung Ciremai yang masih aktif karena saat sebagian rombongan kami lengkap sampai di puncak, kawah sudah tertutup oleh kabut. Tetapi, kami tetap bersyukur dapat merasakan puncak tertinggi Jawa Barat dengan sehat dan selamat.

Sudah lewat berhari-hari sejak saya menapakkan kaki di puncak Gunung Ciremai tetapi, euphoria sampai di puncak masih terasa hingga detik ini. Mungkin karena puncak itu adalah puncak pertama saya, atau mungkin memang seindah itu rasanya naik gunung? Apapun alasannya, saya belum (dan semoga tidak akan) kapok untuk naik gunung. Pendakian pertama saya mengajarkan banyak hal, baik dalam hal emosional maupun spiritual. Saya diajarkan untuk satu rasa, lebih peka terhadap sesama, melawan rasa lelah diri sendiri, dan juga meredam emosi. Kalau kata bang Havel, senior kami, kurang lebihnya seperti ini “naik gunung bisa bikin lo tau dimana batas kemampuan diri lo sendiri.”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *