Melawan Rasa Takut di Tebing Ciampea

( Rizka Putri Adriani NR 1509 )

 “Satu, dua, tiga, KAPA!” Tanah berdentum dengan hentakkan kaki kami dan kami pun siap untuk memulai perjalanan ini. Menggunakan angkot yang telah disewa, kami berangkat dari FTUI menuju lokasi tujuan yakni Tebing Ciampea. Waktu menunjukkan pukul 12 malam ketika kami telah sampai di tempat tujuan. Di lokasi, terdapat sebuah saung yang diperuntukkan bagi pengunjung tebing. Kami pun memutuskan untuk menginap di saung tersebut dan menjadikannya basecamp kami untuk dua hari ke depan.

                Sinar matahari menemani Kami mengawali hari dengan memasak sarapan. Selepas mengisi perut, kami pun bergegas menyiapkan alat untuk menuju ke lokasi pemanjatan. Kami menggelar peralatan kami agar siap untuk digunakan. Pada hari pertama, kami mencoba jalur artificial yang sistem top rope-nya dipasang oleh Rezza dan Andika. Setelah sistem terpasang dengan baik, kepala rombongan kami, Uta, menjadi pemanjat pertama yang mencoba jalur artificial tersebut. Tak lama berselang, Uta mencapai top dan pemanjatan dilanjutkan oleh Jawir kemudian Chevyco. Satu persatu kami semua mencoba untuk memanjat. Beberapa bagian dari jalur ini cukup membuat kami kesulitan, rasanya seperti tidak ada pegangan atau pijakan yang pas, duh!

                Sistem rappelling dipasang di sebelahnya. Ketika berada di atas tebing, kami sudah sangat tidak sabar untuk mencoba bagaimana rasanya turun dengan rappelling. Jawir menjadi orang pertama yang mencoba untuk rappelling dan tak disangka, rintik-rintik hujan mulai membasahi kami. Kami terpaksa menunda pemanjatan dan membawa turun semua peralatan dari puncak. Sambil menunggu hujan reda, kami mempersiapkan makan siang. Begitu nikmatnya menyantap nasi yang masih hangat di tengah udara dingin apalagi dengan kondisi fisik setelah memanjat. Setelah hujan berhenti, kami melanjutkan pemanjatan. Pemanjatan dilakukan sampai malam tiba dan akhirnya kami kembali ke basecamp. Malam harinya kami hiasai dengan bincang-bincang bersama sambil menikmati udara malam.

                Keesokan harinya, kami berangkat lebih pagi menuju lokasi pemanjatan untuk memaksimalkan waktu yang ada. Multitasking menjadi prioritas kami di hari terakhir perjalanan. Ada yang menyiapkan sarapan, ada yang memasang sistem, dan ada pula yang berfoto secara individu. Hari terakhir di Tebing Ciampea berhasil menorehkan banyak senyuman di wajah para peserta. Hal ini disebabkan banyaknya peserta yang berhasil mencapai puncak setelah mengalami kesulitan di hari sebelumnya. Hal tersebut membuktikan Practice Makes Perfect! Tentunya modal pantang menyerah mempunyai andil yang cukup besar di sini. Waktu menunjukkan pukul dua siang, kami sudah mulai membereskan peralatan dan bersiap-siap untuk pulang. Dalam perjalanan kami menuju basecamp, hujan kembali turun dan membuat banyak pengunjung Tebing Ciampea berteduh di saung tersebut. Kami bercengkerama sebentar dengan pengunjung yang berteduh sambil menunggu datangnya angkot. Ketika angkot tiba di lokasi, kami pun bergegas untuk pulang demi menghindari padatnya jalan di hari Minggu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *