Discover Yourself

 

Ferdinand Teguh (NR 1487)

                30 Mei 2017 merupakan hari dimana brainstroming Musim Pengembaraan Gunung Hutan 2017 dilaksanakan. Tujuan MPGH tahun ini adalah Gunung Arjuno dan Gunung Weilerang dan diterapkannya materi buka jalur, navigasi darat, survival (bivak), dan orientasi medan. Sesuai dengan slogan MP kami kali ini—Jelajah Alam, Berbagi Ilmu— dalam MPGH kali ini kami tidak hanya mendaki gunung, tetapi kami juga melakukan suatu kegiatan yang berbeda dari biasanya, yaitu pembangunan perpustakaan dan pencerdasan anak-anak yang ada di desa tempat tujuan kami.

                Pada tanggal 27 Juli 2017, kami berangkat dari Stasiun Pasar Senen menuju Stasiun Malang menaiki KA Matarmaja. Di tengah perjalanan, berita buruk tiba-tiba sampai ke telinga kami. Ternyata terjadi kebakaran hutan di sekitaran puncak Gunung Weilerang. Sesampainya disana, kami bergegas menuju Shelter OPA SAO di kota Pasuruan. Disana, kami melakukan perencanaan ulang seputar jalur perjalanan kami. Pada tanggal 28 Juli, kami melaksanakan aksi sosial kami dengan berkunjung ke sebuah MA di Desa Grogol, Kabupaten Pasuruan. Di sana, kami menyumbang buku-buku beserta sebuah rak buku sekaligus memberikan penyuluhan tentang buku-buku anak. Kami juga mengajak anak-anak kelas 1-3 untuk bermain bersama. Setelah melaksanakan aksi sosial, kami kemudian menemui kepala desa dan melakukan kegiatan sosial pedesaan di sekitar Desa Grogol.

                Siang harinya, kami kembali ke Shelter OPA SAO dan berkomunikasi dengan pihak Gunung Arjuno-Weilerang. Dengan berat hati, kami terpaksa harus mengubur mimpi kami untuk mencapai dua puncak karena Puncak Weilerang masih ditutup hingga hari pendakian kami, sehingga jalur turun kami diganti melalui jalur Pulosari. Pihak OPA SAO meminjamkan tiga buah HT dan mengikutsertakan dua orang untuk menemani perjalanan kami, yaitu Mas Ipul dan Mas Fajar.

Puncak Arjuno 3339 MDPL, here we come!

                Sabtu pagi, tanggal 29 Juli, kami berangkat dari shelter menuju basecamp Lawang untuk berdialog seputar jalur yang kami lewati. Pihak basecamp mengizinkan dan perjalanan kami pun dimulai. Berbekal materi yang sudah dipelajari selama pra-ops, kami berjalan dari basecamp Lawang hingga puncakan Budug Asu. Perjalanan “jarak dekat” ini saja sudah memakan waktu sekitar enam jam. Setelah istirahat singkat, kami melanjutkan perjalanan memasuki jalur yang sudah mulai tertutup tumbuh-tumbuhan. Di tengah perjalanan, kami sempat bertemu dengan pihak Perhutani dan diarahkan untuk berbelok di sebuah pertigaan menuju jalur Lawang. Cuaca saat itu sedang berkabut sehingga kami kesulitan untuk melakukan OrMed. Mengetahui kesalahan kami, kami pun mengirim 2 orang untuk mengambil jalan lurus di pertigaan sebelumnya. Lewat HT, kamipun berasumsi bahwa jalur yang kami lewati itu salah dan harus kembali. Karena waktu saat itu menunjukan pukul 16.30. Karom (Kepala Rombongan) memutuskan untuk berkemah menggunakan bivak di sebuah dataran kecil sebelum jalur pendakian terjal dimulai. Kami bermalam disana menerapkan ilmu survival (bivak) yang sudah dipelajari saat kegiatan pra-ops.

                Keesokan harinya, kami bangun untuk masak, sarapan, dan pemanasan. Setelah itu, kami langsung berangkat. Namun, baru beberapa ratus meter mendaki, saya sudah mulai kelelahan. Akibatnya, perjalanan melambat dan air yang saya minum cukup banyak. Target skenario hari itu belum juga tercapai dan karom pun mengubah skenario yang awalnya dua malam menuju puncak menjadi tiga malam. Kondisi logistik sebenarnya cukup, tetapi kondisi air lah yang mulai mengkhawatirkan. Sepanjang perjalanan, kami disuguhkan dengan medan ilalang yang bervariasi, mulai dari yang tingginya sekitar sepinggang hingga yang tingginya melebihi 160 cm. Leader perjalanan pun terpaksa bergantian karena sangat berat membuka jalur tersebut. Kami pun bermalam di sebuah dataran sempit dan harus memotong ilalang untuk dapat membangun tenda.

                Pada hari ketiga, kondisi fisik saya semakin menurun karena tidak bisa tidur. Baru berjalan sekitar 2-3 jam, saya mulai setengah collapse. Pengelihatan saya mulai kabur. Rombongan kami pun menghentikan perjalanan untuk saya. Saya merasa sangat bersalah kepada tim karena perjalanan menjadi terhambat. Namun, kepala divisi dan karom tetap memberi saya semangat. “Jangan pedulikan skenario. Yang terpenting adalah tim ini harus selamat.” Berkat dorongan mental dari seluruh tim, saya pun menguatkan diri saya sendiri untuk bisa melanjutkan pendakian. Untungnya, kami dapat sampai di spot tenda kedua terdekat dari puncak tepat waktu. Kami mulai mendirikan tenda, tetapi kondisi teman kami ada yang kurang fit, sehingga diminta untuk beristirahat.

                Hari keempat, target kami adalah puncak dan alhamdullilah, kondisi seluruh anggota rombongan kami fit dan kami mencapai puncak tepat waktunya. Kami sangat senang dan membuka minuman kami satu per satu. Kondisi di puncak sangat cerah, dengan angin yang tidak terlalu besar. Bahkan beberapa teman kami sukar percaya bahwa kami sudah mencapai puncak Arjuno, 3339 mdpl. Kami pun berfoto-foto terlebih dahulu sebelum turun. Perjalanan turun kami direncakanan hanya sekitar 5 jam berbekal info dari Mas Ipul dan Mas Fajar.

                Ekspektasi tidak sesuai realita, begitulah yang menggambarkan perjalanan turun kami. Medan yang kami lalui, meskipun jelas jalurnya, sangat curam. Bagi saya, perjalanan turun adalah saat-saat dimana mental saya paling down. Kami baru sampai ke Pos 5—sumber air terdekat—setelah lebih dari 3 jam turun. Padahal dari info yang kami dapat, perjalanan menuju Pos 5 hanya membutuhkan waktu sekitar 1 jam. Kondisi air pribadi sudah sangat kritis. Berbekal dorongan mental untuk minum yang sangat besar, saya memaksakan kaki saya untuk mencapai Pos 5. Tidak terlupakan betapa bahagianya kami saat mencapai Pos 5, yang terdapat arca-arca Hindu dan keran mata air Arjuno. Saya pun duduk di samping keran untuk minum sekaligus mengisi botol-botol kosong milik tim. Meningat saat itu hari sudah gelap, karom memutuskan untuk memperpanjang perjalanan. Kami tidak perlu mendirikan tenda karena sudah terdapat sebuah shelter yang memang didedikasikan untuk para pendaki yang melewati jalur Pulosari. Di sana terdapat seorang penjaga yang dengan baiknya membuatkan kopi dan nasi untuk tim kami. Terdapat banyak sekali bahan makanan yang memang diberikan oleh para pendaki untuk disimpan di shelter tersebut.

                Keesokan harinya, kami berpamitan dengan bapak penjaga shelter dan membagikan sedikit bahan makanan sisa kami untuk shelter tersebut. Perjalanan turun kami memakan waktu sekitar 5 jam untuk sampai ke basecamp. Selama perjalanan, kami melewati banyak rumah-rumah untuk sembahyang. Memang jalur Pulosari ini adalah jalur yang digunakan untuk sembahyang. Sesampainya di basecamp, hati kami meluap-luap dipenuhi euforia karena kami sudah berhasil menyelesaikan misi kami.

                Pendakian ini bukan sekadar pendakian biasa yang hanya untuk berkemah, masak , dan makan bersama, lalu sampai di puncak untuk berfoto-foto. Pendakian ini adalah pendakian di mana kita saling belajar—belajar manajemen personal, belajar menahan ego ketika haus tetapi ada teman yang lebih membutuhkan, belajar memahami cara berpikir orang lain, belajar menolong orang lain yang tidak sanggup membawa bawaan berat, dan yang terpenting adalah belajar sifat asli diri sendiri yang bahkan tidak ketahui apabila tidak ditekan hingga mencapai batas. Itulah pelajaran yang saya dapatkan selama 4 malam operasional MPGH 2017 ini. Pelajaran ini adalah pelajaran yang tidak akan terlupakan dan kelak akan saya ceritakan kepada anak dan cucu saya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *