Batubara : Nyalakan Listrik, Matikan Kehidupan. Benarkah ?

Charcoal_iconJATAM atau Jaringan Advokasi Tambang merupakan jaringan organisasi non pemerintah (ornop) dan organisasi komunitas yang memiliki kepedulian terhadap masalah-masalah HAM, gender, lingkungan hidup, masyarakat adat dan isu-isu keadilan sosial dalam industri pertambangan dan migas. Materi yang diberikan berupa pengetahuan umum tentang kondisi pertambangan di Indonesia dan bagaimana dampak yang ditimbulkan dari pertambangan itu sendiri.

Menurut presentasi yang dipaparkan oleh Bang Bagus sebagai pengurus JATAM, tercatat hingga tahun 2014, produksi batubara sebesar 421 juta ton, 77% hasil produksinya di eksport keluar negeri untuk memenuhi kebutuhan negeri lain dan sisa 23% hasil produksinya digunakan untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri. Banyaknya eksport hasil produksi batubara menjadikan Indonesia sebagai eksportir batubara kelima di dunia.

Hasil produksi batubara dipakai untuk bahan bakar pembangkit listik, sebesar 41% listrik dunia dihasilkan dari pembakaran batubara, mengalahkan pemakaian dari bahan bakar lain, yaitu gas 21%, hidro 16%, minyak 6%, nuklir 13%, dan energi terbarukan lainnya 3%. Pemerintah Indonesia juga berencana meningkatkan rasio ketersediaan listrik dengan menjadikan batubara sebagai bahan bakar utama sebanyak 30% pada 2025 mendatang. Batubara banyak digunakan untuk keperluan pembangkit listrik dikarenakan harganya yang murah untuk tiap kWh, yaitu hanya Rp. 700,-. Karena alasan “murah” itu produksi batubara diperbesar. Padahal bila dilihat dari dampaknya, JATAM mempunyai julukan tersendiri untuk bahan bakar batubara ini, yaitu “deadly coal” karena energi batubara adalah energi kotor dan energi pembawa maut, yang tidak hanya merusak lingkungan, tetapi merusak keberlangsungan hidup manusia itu sendiri.

Dalam beberapa kasus, pembukaan lahan untuk pertambangan batu bara kerap kali harus merusak hutan. Seringkali hutan yang luas dengan tanah yang produktif harus dieksploitasi. Karena untuk mencapai titik batubara haruslah menguras air tanah maka di sekitar tempat tambang akan terjadi penurunan muka air tanah. Hal ini dapat menyebabkan kelangkaan air bersih. Bukan hanya itu, saat proses pencucian batubara, terdapat cairan pencuci yang bersifat karsogenik karena mengandung logam berat dan biasanya limbah hasil cucian tersebut disimpan di kolam lumpur yang bisa bocor sehingga dapat mencemari air permukaan dan air bawah tanah. Bahkan dampak dari pengangkutan batubara pun dapat menjadi sumber penyakit. Debu yang timbul saat proses pengangkutan dapat menjadi penyebab ISPA (Infeksi Saluran Pernafasan) dan pemicu serangan jantung.

Belum selesai sampai disitu, pembakaran batubara juga menghasilkan limbah ke udara yang tercemar dengan racun kimia dan logam berat, seperti arsenic, cadmium, selenium, timbal, merkuri, partikulat, sulfur dioksida, nitrogen oksida, dan pastinya karbon dioksida. Bila terpapar zat-zat tersebut dapat merusak sistem peredaran darah, pernapasan, saraf, dan juga meningkatkan resiko terkena kanker paru, stroke, dan jantung. Oleh karena itu, pembakaran batubara untuk sumber listrik termasuk yang paling mematikan. Kenapa? Karena untuk setiap 1.000 terawatt jam listrik yang dihasilkan dapat membunuh hingga 280.000 orang. Bandingkan dengan angin yang membunuh hanya 150 orang dan panel surya yang membunuh 440 orang untuk tiap 1.000 terawatt jam.

Tambang batubara adalah industri yang memakan sangat banyak lahan sehingga  banyak tambang batubara yang jaraknya sangat dekat dengan pemukiman warga. Hal ini tentu juga menimbulkan masalah. Lubang-lubang bekas tambang dibiarkan terbuka dan menjadi kolam besar yang terlihat indah karena airnya yang berwarna biru tosca, padahal warna itu mengindikasikan bahwa kolam tersebut mengandung zat-zat berbahaya seperti logam-logam berat. Lubang-lubang yang dibiarkan terbuka oleh perusahaan-perusahaan yang tidak bertanggung jawab itu memakan korban jiwa. Sudah sekitar sebelas anak tewas karena tercebur kedalam lubang tersebut dalam 4 tahun terakhir ini, yang paling kecil berumur 5 tahun dan yang paling besar berumur 12 tahun. Lubang itu dibiarkan terbuka tanpa ada pengaman sehingga anak-anak bebas bermain dilubang tersebut. Mereka yang kekurangan lahan untuk bermain karena lahannya sudah diambil oleh perusahaan tambang pun senang melihat ada kolam indah untuk bermain ditambah jaraknya yang dekat dengan rumah mereka.

Setelah mendapatkan materi ini, kami jadi mengetahui bahwa tidak selamanya bekerja di tambang batubara itu “indah”, meskipun pundi-pundi yang dihasilkan dari usaha batubara sangat menggiurkan, namun pada kenyataannya bahwa sebagian besar listrik yang kami nikmati berasal dari bahan bakar yang dari hulu ke hilir, dari awal sampai akhir pemrosesannya menimbulkan banyak pencemaran dan banyak masalah.

Oleh karena itu, sebagai lapisan masyarakat yang terdidik dan sudah mengetahui “fakta-fakta kotor” batubara yang banyak digunakan sebagai bahan bakar untuk pembangkit listrik, walaupun kita sudah mendapatkan listrik dengan sangat mudah, akan tetapi sebaiknya kita menggunakan listrik tersebut dengan bijak, dimulai dari hal-hal kecil seperti mematikan laptop bila sudah tidak dipakai agar hemat baterai. Karena siapa tau listrik yang kita nikmati adalah hasil dari pertambangan batubara yang lubangnya dibiarkan terbuka dan akhirnya menjadi penyebab meninggalnya salah satu dari sebelas anak yang meninggal di lubang yang dibiarkan terbuka tersebut. Siapa tau?

Sebuah catatan oleh :

Rahmah Mardliah (NR 1409)

Indi Azmi Rizka A (NR 1411)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *